JAKARTA, HIPMI NEWS – Banyak bisnis di lingkungan pengusaha muda ambruk bukan karena pasarnya tidak ada, melainkan karena konflik internal antar pendiri (founder). Di tahun 2026, memiliki Akta Pendirian saja tidak cukup. Pengusaha yang cerdas butuh Shareholders’ Agreement (SHA) yang mengatur segala skenario terburuk sebelum hal itu terjadi. Mengapa Akta Notaris Saja Tidak Cukup? Akta perusahaan biasanya hanya mengatur hal-hal standar sesuai UU PT. Namun, SHA atau Founder’s Agreement mengatur hal-hal yang lebih personal dan strategis: Vesting Period: Apa yang terjadi jika salah satu partner ingin keluar setelah baru 6 bulan bergabung? Apakah dia tetap berhak atas seluruh sahamnya? (Sistem Vesting menjaga agar saham hanya dimiliki penuh jika partner tersebut berkomitmen dalam jangka waktu tertentu, misal 4 tahun). Role & Responsibilities: Siapa yang pegang kendali IT, siapa yang pegang Legal/Tax, dan siapa yang cari klien. Kejelasan jobdesk di level owner mencegah rasa “iri” di kemudian hari. Mengantisipasi ‘Deadlock’ dalam Pengambilan Keputusan Bayangkan jika anda dan partner punya saham 50:50, lalu kalian beda pendapat soal ekspansi besar. Bisnis bisa berhenti total karena deadlock. Edukasi ini penting agar pengusaha menyiapkan mekanisme: Casting Vote: Memberikan hak suara penentu pada salah satu pihak dalam kondisi darurat. Buy-Sell Provision: Mekanisme di mana salah satu pihak bisa membeli saham pihak lain jika sudah tidak ada titik temu, agar bisnis tetap bisa jalan. Klausul ‘Drag-Along’ dan ‘Tag-Along’ Ini adalah istilah “mewah” yang wajib diketahui anggota HIPMI: Drag-Along: Jika ada investor besar mau beli 100% saham perusahaan anda, anda punya hak untuk “menyeret” pemegang saham minoritas untuk ikut menjual sahamnya agar transaksi tidak batal. Tag-Along: Melindungi pemegang saham minoritas. Jika owner mayoritas menjual sahamnya, minoritas berhak ikut menjual saham mereka dengan harga yang sama. Post navigation Holding Company vs Sister Company: Mana Struktur Terbaik untuk Mengamankan Gurita Bisnis Anda? Exit Strategy: Jangan Cuma Bangun Bisnis buat ‘Cari Makan’, Bangun Bisnis buat ‘Bisa Dijual’